Minggu, 08 April 2012

Rangkuman Pengembangan Pembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini


Bab III : Cara  Anak Mempelajari Sains

Menurut para ahli, anak adalah unik. Tidak hanya para ahli, ahli psikologi, ahli pendidikan maupun ahli lainnya yang mendalami tumbuh-kembang anak, khususnya pada anak usia dini juga berpendapat seperti itu. Karena perilaku dan perwujudannya dipengaruhi oleh lingkungan, artinya perilaku yang muncul sesungguhnya merupakan refleksi daridinamika kehidupan sekitar kita. Kemampuan guru sains terhadap perkembangan dan karakteristik anak memadai, akan banyak keuntungan yang dapat diperoleh,seperti :
  1.  Membantu dalam penentuan dan pemilihan cara-cara berinteraksi,bersikap dan memperlakukan anak dalam kegiatan dan pembelajaran sains.
  2.  Menyediakan pilihan kegiatan, materi dan fasilitas yang diperlukan untuk pembelajaran sains mereka.
  3.  Membantu dalam mengantisipasi (memperkirakan) berbagai kemungkinan yang akan terjadi sebelum, selama dan setelah pembelajaran sains dilaksanakan.
  4.   Membantu dalam, mengontrol perkembangan, mengetahui tingkat  ketercapaian serta pengambilan keputusan tentang efektifitas.

A. Siapakah Anak Itu ?
Pandangan orang, terutama para ahli tentang anak cenderung berubah dari waktu ke waktu serta berbeda satu sama lain. Karena, mereka dalam merefleksikan anak cenderung menyesuaikan ddengan pengalaman dan pemahaman masing – masing.
Tinjauan ara ahli dapat digambarkan sebagai berikut :
   a.       Berdasar dimensi usia kronologis
Hurlock (1999)  mengatakan, bahwa masa kanak-kanak dini adalah usia prasekolah atau kelompok usia antara 2 hhingga 6  tahun. Solehuddin (2000) membatasi secara kronologis anak usia dini (early Childhood) adalah anak yang berkisar antara usia 0 sampai dengan 8 tahun.

   b.      Berdasar sudut pandang filosofis
Menurut Ki Hajar Dewantara, Anak (manusia) adalah titah Tuhan yang terdiri atas unsur badan kasar (jasmani) dan badan halus (rohani). Anak lahir dengan kodrat/pembawaan masing-masing. Menurut Erikson, anak adalah makhluk yang aktif dan penjelajah yang adaptif, selalu berupaya untuk mengontrol lingkungannya.

   c.       Berdasar karakteristik perkembangannnya
Pada dasarnya aspek-aspek perkembangan anak adalah hal-hal yang turut tumbuh den berkembang dalam keseluruhan dirianak. Mustaffa (2002) mengidentifikasi sejumlah karakteristik dari anak usia dini  sebagai berikut:

1.       Menggunakan semua indra untuk menjelajahi benda.
2.       Rentang perhatiannya masih pendek.
3.       Mulai mengembangkan dasar-dasar keterampilan berbahasa, bermain—main dengan bunyi.
4.       Perkembangan keterampilan bahasa yang pesat.
5.       Aktif memperhatikan segala sesuatu tetapi dengan rentang atensi yang pendek.
6.       Menempatkan  diri sebagai pusat dunianya sendiri.
7.       Serba ingin tahu tentang dunianya sendiri sebagai kanak-kanak.
8.       Mulai tertarik dengan bagaimana mekanisme kerja berbagai hal dan dunia luar di sekitarnya.

B. Hakekat Belajar
a. Konsep Belajar
Belajar dalam bahasa tradisional berarti penambahan dan pengumpulan pengetahuan, jadi tekanannya pada intelektual. Sedangkan dalam bahasa modern yaitu lebih menekankan pengertian balajar sebagai suatu proses dimana suatu pengalaman (Witherington,1959; Sartain,1973; Syah,1995).
Dimensi-dimensi perubahan yang terjadi yaitu :
  1.       Kepribadian
  2.       Perilaku aktual maupun potensial
  3.       Kecakapan / keterampilan dalam bertindak
  4.       Sikap dan kebiasaan
  5.       Pengetahuan dan pemahaman

Belajar adalah erubahan yang terjadi akibat usaha aktif, bukan pasif. Dan belajar merupakan kegiatan berusaha, berfikir, dan kegiatan memilih atau menentukan untuk mendapatkan pengetahuan,keterampilan dan sikap yang diharapkan. Sebelum guru memasukkan anak pada proses pembelajaran yang nyata ia harus membuat persiapan (program) yang terencana (matang) berdasarkan tujuan yang jelas.

b. Bentuk – bentuk Belajar
banyak ahli yang mengkaji tentang bentuk-bentuk belajar,tetapi secara umum,terdapat enam bentuk dasar perbuatan belajar. Keenam bentuk tersebut adalah :
  1.       Mendengarkan : yaitu bentuk belajar atau perubahan perilaku yang didasarkan atas tindakan mendengarkan.
   2.       Memandang (melihat) : bentuk belajar memandang memiliki dimensi yang terbuka, pertama arah belajar lebih ditekankan pada fungsi indra sebagai alat untuk memperoleh pengalaman belajar melalui jalur visual.
   3.       Membau /mencium : belajar dengan cara ini amat khas, tetapi jika kurang memperhatikan rambu dan kriteria obyek atau isi yang dipelajari akan berakibat fatal, misal keracunan dan lain – lain.
  4.       Meraba dan mencicipi : bentuk belajar ini sangat esensial terutama bagi anak usia dini dalam menggali sains.
   5.       Menghapal : adalah bentuk belajar yang sangat popular, saat ini maupun pada masa silam. Belajar menghapal sangat dibutuhkan,mengingat begitu banyaknya informasi,konsep, teori dan fakta yang berada di sekitar anak.
  6.       Membaca: yaitu dengan menyerap informasi melalui bacaan yang berisi informasi – informasi pengetahuan yang telah dikemas dan disajikan secara sistematis dalam bentuk tulisan.

c.  prinsip – prinsip Belajar
prinsip adalah asas atau kebenaran – kebenaran yang menjadi pokok dasar dalam berpikir dan bertindak. Prinsip – prinsip belajar yang dikemukakan oleh Witherington,1996 maupun Ausuble,1989 terdapat beberapa asas yang semestinya diperhatikan oleh para guru dalam kegiatan belajar sehingga perencanaan, pelaksanaan dan penilaian kegiatan-kegiatan dalam program pengembangaan sains berjalan sesuai yang semestinya. Hal – hal prinsip dalam belajar yang harus dipegang teguh menurut kedua ahli tersebut adalah :
  1. Belajar akan berhasil apabila anak melihat tujuan dan tujuan itu lahir dari dan dekat dengan kehidupan anak.
  2. Kegiatan belajar hendaklah dapat merangsang seluruh aspek perkembangan anak, baik jasmani, rohani, maupun emosional.
  3. Lingkungan belajar yang menciptakan hendaklah bermakna dan mengandung arti bagi anak sehingga membentuk pola kelakuan (behavior patern) yang berguna bagi kehidupan anak.
  4. Bantuan belajar yang diberikan adalah yang menunjang efektifitas dan efisiensi belajar anak dan dilakukan secara wajar.
  5. Adanya upaya pengintegrasian pengalaman belajar sebelumnya dengan pengalaman baru sehingga menjadi suatu kesatuan pengalaman yang utuh, tidak mudah lepas atau hilang.
  6. Penyajian belajarhendaklah suatu keseluruhan harus lebih dulu dimunculkan kemudian baru menuju sesuatu yang lebih spesifik.
  7. Belajar selalu dimulai dengan suatu masalah dan berlangsung sebgai usaha untuk memecahkan masalah itu.
  8. Belajar itu berhasil bila disadari telah ditemukan clue (kunci) atau hubungan diantara unsur-unsurdalam masalah itu, sehingga diperoleh insight atau wawasan dan pemahaman.
  9. Belajar berlangsung dari yang sederhana meningkat kepada yang kompleks,bergerak dari yang dekat dngan anak hingga yang jauh,serta dari yang konkrit menuju abstrak.

C. Pandangan Psikologis Tentang Cara Belajar Anak
a. Pandangan Kaum Kognitivitas Tentang Belajar Anak
Bruner menganggap bahwa manusia sebagai pengolah informasi, pemikir dan pencipta. Bruner mengemukakan terdapat lima tujuan pendidikan. Yang dapat juga dijadikan sebagai tolak ukur arah pengembangan program sains yang dibuat oleh para guru, yakni :
  • Membawa siswa untuk menemukan nilai dan kemampuan dalam menduga permasalahan, pendekatan terhadap masalah serta merealisasikan aktivitas pemecahannya.
  • Mengembangkan kepercayaan diri siswa akan kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan pikirannya sendiri.
  • Membantu siswa agar memiliki dorongan diri untukmenggunakan kemampuannya dalam menghadapi berbagai mata pelajaran.
  • Mengembangkan cara berfikir ekonomis melalui pengembangan belajar yang mendorong mencari relevansi dan strukturdari apa yang dipelajarinya.
  • Mengembangkan kejujuran intelektual yakni kesadaran menggunakan peralatan dan bahan – bahan dari pengetahuan untuk menilai dan menguji suatu pemecahan masalah, gagasan dan dugaan – dugaannya.

Tahapan – tahapan perkembangan yang dimaksudkan oleh Piaget adalah
  1. Tahap usia sensori motor (usia 0 – 2 tahun).
  2. Tahap berpikir pra-operasional (usia 2 – 7 tahun).
  3. Tahap operasi konkrit (7 – 11 tahun).
  4. Tahap operasi formal (11 – 15 tahun).

Ausuble 1969 (Ibrahim,1996) mengemukakan bahwa terdapat tiga bentuk belajar, yaitu :
1  1. Belajar Menerima Lawannya Belajar Diskaveri.
Belajar diskaveri disebut juga belajar inquiri. Karena kegiatan belajar ini lebih bersifat aktif, karena ada sejumlah proses mental yang dilakukan siswa.

2 2. Belajar Menghapal Lawannya Belajar Bermakna.
Belajar bermakna dapat terjadi karena :
1.       Ada hubungan antara sesuatu fakta atau pengetahuan dengan fakta atau pengetahuan lainnya.
2.       Ada hubungan antara sesuatu pengetahuan dengan penggunaannya, antara pengetahuan dengan manfaatnya.

3 3. Pandangan Kaum Behaviorist Tentang Belajar Anak.
Behaviorisme adalah aliran psikologi yang percaya bahwa manusia terutama belajar karena pengaruh lingkungan. Menurut Skinner, tingkah laku sepenuhnya ditentukan oeh stimulus, tidak ada faktor perantara lainnya. Rumusannya B (Behaviour) = f (fungsi) dari S (stimulus) atau B = f (S). Tingkah laku atau respon (R) tertentu akan timbul sebagai reaksi terhadap stimulus tertentu (S).

D. Anak, Belajar dan Sains
Fungsi dari pengajaran sains yaang dapat menumbuhkan berfikir logis,berfikir rasional, berfikir analitis danberpikir kritis dapat berkontribusi secara signifikan dalam embentukan potensi – potensi anak (Juariah Adang,1995).
Batasan pengajaran menurut Gagne, bahwa pengajaran adalah upaya guru meyakinkan siswa bahwa setiap siswa mempunyai kemampuan prasyarat untuk tugas – tugas belajarnya; menstimulir penggunaan kemampuan siswa sehingga siap menyelesaikan dan mengatur persyaratan belajarnya.
Hal – hal penting yang diajukan sebagai bahan pertimbangan dalam menyikapi sains sekaligus dalam upaya pencarian alternatif – alternatif pengembangannya yang paling efektif dan produktif adalah sebagai berikut :
  1. Setiap anak memiliki bakat dan potensi yang menakjubkan.
  2. Anak adalah makhluk individu, maksudnya anak merupakan individu yang memiliki karakteristik dan kesiapan untuk dikembangkan pada fokus tertentu dan menarik baginya
  3. Anak adalah pelajar. Cara – cara memfasilitasi anak yang tepat, dapat membangun pengalaman belajar yang bermakna bagi setiap anak.
  4. Anak adalah pelaku dan perencana.
  5. Pembelajaran sains pada anak yang paling dan anjurkanadalah dengan partisipasi langsung (direct participation), karena anak merupakan partisipan yang hebat, sehingga kemampuan anak sebagai pelaku dan perencana dapat difasilitasi secara memadai dan bermakna.
  6. Anak adalah peka dan pengindra. Pengalaman pada anak adalah berhubungan denganapayang mereka rasakan, dengar, sentuh atau raba, rasa atau cicipi dan cium, tetapi juga kepekaan – kepekaan yang dirasakan tubuhnya.
  7. Anak adalah pemikir. Otak anak dilengkapi kemampuan berfikir dan dalam otak setiap anak terdapat ‘model awal scientifik’ (prota-scientific),yaitu kemampuan dan kepekaan cara – cara mengorganisasikan pengetahuan yang ia ketahui tentang dunianya (Holt,1994).

1 komentar:

  1. Assalamu'alaikum,terimaksih sdh menulis blognya bermanfaat sekali,boleh sy minta judul buku untuk Anak, belajar sain pada poin D,sy mau mencari judul bukunya,terimakasih,ditunggu

    BalasHapus

Share It